BLITAR, SJP–Operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, menyisakan duka mendalam. Empat petugas dilaporkan gugur dan dua lainnya mengalami luka-luka saat menjalankan tugas di tengah medan ekstrem.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya para petugas dan relawan terlatih tersebut.
Ia menegaskan pentingnya evaluasi total untuk memastikan keselamatan personel di garis depan.
“Dengan semangat melindungi warga, mereka gugur dalam menjalankan tugas,” ujar Emil, Sabtu (17/10/2026).
Emil menekankan bahwa kejadian ini menjadi pengingat krusial agar aspek keselamatan personel tidak diabaikan dalam setiap operasi darurat bencana.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim), kata Emil, berkomitmen memastikan setiap petugas mendapatkan perlindungan maksimal.
Saat ini, operasi pemadaman dan pencegahan karhutla melibatkan tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI-Polri, hingga Satuan Polisi Hutan. Pemprov Jatim juga mengintensifkan pemantauan di seluruh wilayah kehutanan untuk mencegah meluasnya titik api.
“Kita telah mengoptimalkan seluruh satuan polisi hutan, baik yang melekat di Taman Nasional BTS maupun yang ada di kehutanan, untuk bisa meningkatkan patrolinya dalam masa-masa seperti ini,” jelasnya.
Emil memaparkan bahwa medan terjal dan sulit dijangkau menjadi kendala utama operasi pemadaman jalur darat, seperti yang juga terjadi di kawasan Gunung Arjuno. Untuk menyiasatinya, petugas diarahkan berjaga dan memperketat patroli di titik perimeter yang masih dapat diakses.
“Kalau api sampai ke titik itu bisa dihalau, supaya tidak meluas,” ucap Emil.
Di sisi lain, upaya pemadaman udara (water bombing) belum dapat dioptimalkan lantaran armada helikopter nasional saat ini masih diprioritaskan untuk penanganan karhutla di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Keterbatasan tersebut disiasati dengan memaksimalkan seluruh personel dan peralatan darat yang tersedia.
“Segala langkah dan perangkat yang kita punya kita maksimalkan untuk meminimalkan meluasnya titik-titik api, sekalipun sumbernya tidak bisa dijangkau,” tegas Emil.
Emil kembali menggarisbawahi bahwa keberanian personel di lapangan harus diimbangi dengan strategi mitigasi risiko yang matang, sehingga upaya penyelamatan lingkungan tidak mengorbankan keselamatan jiwa para petugas. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru