GRESIK, SJP — Keramaian Car Free Day (CFD) di depan Gedung Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) Kabupaten Gresik, mendadak riuh oleh warga yang antre di depan sebuah mikroskop digital.
Bukan untuk melihat bakteri, melainkan untuk menyaksikan “musuh tak kasat mata” yang selama ini mereka konsumsi yakni mikroplastik.
Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) bekerja sama dengan Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UA) menggelar edukasi interaktif melalui uji mikroplastik langsung di lokasi, Minggu (8/2/2026).
Langkah ini diambil sebagai peringatan dini atas kian masifnya kontaminasi partikel plastik dalam sendi kehidupan masyarakat.
“Saya sudah tahu tentang mikroplastik, tapi tidak menyangka kalau mikroplastik jenis film yang mengkilap juga bisa ada di skincare. Ini jadi bikin lebih waspada memilih produk yang dipakai sehari-hari,” kata salah satu pengunjung siswi SMK Manyar, Amel (16).
Amel mengaku sudah mengetahui istilah mikroplastik sebelumnya, namun tetap terkejut dengan temuan di lokasi.
Melalui penggunaan mikroskop digital, ia menyebut secara langsung melihat partikel mikroplastik yang ditemukan pada berbagai sampel, mulai dari air minum kemasan plastik, seduhan minuman, hingga produk perawatan tubuh atau skincare.
Hasil pengamatan menunjukkan adanya partikel mikroplastik dengan berbagai bentuk, termasuk jenis film yang tampak mengkilap.
Sementara itu, Adit, perwakilan dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) yang juga merupakan alumni Universitas Airlangga, menyampaikan keterkejutannya saat melihat langsung hasil uji mikroplastik dari air minum harian yang dibungkus plastik.
“Kami kaget melihat temuan mikroplastik dari air minum kemasan yang sehari-hari kita konsumsi. Selama ini tanggung jawab sering dibebankan hanya ke pemerintah dan masyarakat, padahal produsen juga harus bertanggung jawab. Apalagi baru diketahui bahwa mikroplastik bisa mengganggu hormon,” tegas Adit.
Kegiatan ini juga mengajak masyarakat untuk mulai melakukan langkah sederhana, seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan kemasan sachet, serta lebih kritis dalam memilih produk.
Ecoton menilai, keberadaan mikroplastik dalam berbagai produk konsumsi dan kebutuhan harian menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah memasuki fase yang mengkhawatirkan.
Partikel mikroplastik berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, minuman, maupun kontak kulit, dan dalam jangka panjang dapat memicu gangguan kesehatan. (*)
Editor: Danu
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru