JOMBANG, SJP– Kuliner tradisional Nusantara tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Salah satunya adalah kue kembang goyang atau yang dikenal sebagai kue antari.
Di tengah persaingan jajanan modern, camilan klasik ini tetap bertahan, bahkan permintaannya meningkat tajam selama bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri.
Di Kabupaten Jombang, salah satu produsen yang konsisten mempertahankan kudapan ini adalah Ika Trisna Savitri, warga Jalan Sisingamangaraja Nomor 38, Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang. Usaha keluarga yang dirintis sejak tahun 1996 ini terus berkembang berkat kualitas dan cita rasa yang khas.
“Kue ini dinamakan kembang goyang karena bentuknya menyerupai kelopak bunga dan teknik memasaknya digoreng dengan cara menggoyang-goyangkan cetakan agar adonan terlepas. Meskipun digoreng, kue ini tidak menyerap banyak minyak, sehingga tetap renyah,” ujar ibu muda yang karib disapa Vivi tersebut, Sabtu (28/2/2026).
Vivi menjelaskan bahwa dahulu kue kembang goyang identik dengan perayaan besar seperti pernikahan atau khitanan. Namun, saat ini kue tersebut telah bertransformasi menjadi camilan harian favorit karena teksturnya yang gurih.
“Dengan harga yang terjangkau, kue kembang goyang menjadi pilihan tepat untuk camilan saat bersantai bersama keluarga atau teman-teman,” tambahnya.
Mengikuti perkembangan zaman, Vivi melakukan inovasi pada varian rasa dan warna guna menarik minat konsumen, khususnya generasi muda. Pemasaran produknya kini telah menjangkau luar kota, termasuk pengiriman hingga ke Jakarta. Setiap memasuki masa Ramadan, volume pesanan dilaporkan mengalami kenaikan signifikan.
“Saat ini, kami sedang mengerjakan pesanan dari pelanggan. Kembang goyang kami memiliki rasa khas yang gurih dan renyah, serta harga yang terjangkau, sehingga banyak diburu pembeli,” terangnya.
Dalam satu kali produksi, satu adonan mampu menghasilkan sekitar 4 kilogram kue atau setara dengan 20 kemasan. Produk ini dijual dengan harga Rp12.000 untuk kemasan 200 gram dan Rp7.000 untuk ukuran 80 gram.
“Kami juga menerima pesanan dalam jumlah besar. Untuk reseller yang memesan minimal 50 bungkus, ada harga khusus Rp11.000 per bungkus. Sementara untuk pembelian per kilogram, harganya Rp50.000,” kata Vivi.
Salah satu pelanggan setia, Sugiono, mengaku rutin memesan kue ini jauh-jauh hari guna memastikan ketersediaan stok untuk hidangan Lebaran.
“Kue ini sangat renyah saat digigit, ada rasa manis yang tidak terlalu kuat dan rasa gurih yang khas. Saya sengaja pesan sekarang untuk Lebaran supaya tidak kehabisan,” ujar Sugiono.
Menurutnya, selain faktor rasa, bentuk menyerupai bunga dan visual warna yang menarik menjadi daya tarik utama bagi konsumen dalam memilih camilan tradisional ini.
Melalui konsistensi pada proses produksi tradisional dan harga yang kompetitif, kue kembang goyang di Jombang tetap menjadi primadona bagi para pecinta kuliner klasik di tengah arus modernisasi. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru