SURABAYA, SJP – Tidak ada konsep yang berubah secepat “keluarga”. Ia pernah dimaknai sebagai rumah yang dilandaskan hanya pada ikatan darah. Namun dunia bergerak cepat, dan keluarga hari ini bisa terbentuk dari pilihan, pengalaman, bahkan luka yang sama.
Pergeseran konsep itulah yang melatarbelakangi tema KinoFest 2025, sebuah festival film Jerman yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut sejak Oktober hingga November di berbagai kota di Asia Tenggara dan kawasan Pasifik, termasuk di Kota Surabaya melalui Wisma Jerman.
Selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 November 2025, Kota Surabaya akan disuguhkan tujuh film terbaru dari Negeri Seribu Kastil dengan tema “Family – Extended” yang membentangkan ragam kisah keluarga, dari yang hangat, getir, hingga menggugat struktur sosial yang selama ini dianggap mapan.
Direktur Utama Wisma Jerman, Mike Neuber, menyebut edisi tahun ini spesial bukan hanya karena tema yang kuat, tetapi juga karena Surabaya baru kali ini mendapat kesempatan menjadi tuan rumah resmi KinoFest.
“Jadi KinoFest merupakan acara festival film dari Goethe-Institut yang diadakan setiap tahun sejak 2022, dan di tahun keempat ini untuk pertama kalinya diadakan di Surabaya,” ujar Mike, Minggu (30/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa tema “Family – Extended” memberi ruang bagi penonton untuk melihat keluarga dari sudut pandang yang lebih luas.

Film-film yang diputar, sebagian cocok untuk dewasa dan sebagian untuk anak-anak, dipilih secara khusus untuk membuka sudut pandang baru tentang bagaimana keluarga terbentuk, baik melalui emosi, sejarah, maupun kerja keras.
“Film-film ini memberikan kita kesempatan melihat keluarga tidak hanya berdasarkan definisi tradisional, tetapi juga yang lain. Bahwa keluarga bisa dibentuk oleh kerja keras, sejarah, atau emosi, tidak hanya lewat hubungan darah,” kata Mike.
Wisma Jerman juga menyiapkan penyaringan usia penonton, dengan mencantumkan batasan umur pada sistem registrasi daring melalui akun Instagram @Wisma_jerman. Menurut Mike, penonton yang tidak memenuhi batas usia akan ditolak masuk jika datang tanpa pendamping orang tua.
Ia juga menyinggung proses kurasi program yang dilakukan oleh seorang pakar film Indonesia yang kini tinggal di Portugal. Wisma Jerman, ucap Mike, bangga dapat menghadirkan kembali program film terbaru setelah beberapa tahun pascapandemi hanya menghadirkan pemutaran arthouse yang tidak selalu memutarkan rilisan baru.
“Kita sebenarnya juga sering mengadakan festival film lain, namun tidak ada program yang benar-benar menghadirkan film terbaru dari Jerman. Karena itu kami sangat senang bisa membawakan film terbaru Jerman melalui KinoFest ini,” ungkap Mike
Dari sisi Goethe-Institut, KinoFest sendiri dianggap bukan sekadar ajang menonton film, tetapi jembatan budaya yang menghubungkan berbagai negara di Asia Tenggara dan Pasifik.
Dr. Marguerite Rumpf, Regional Head of Cultural Programmes Goethe-Institut dalam keterangannya mengungkapkan bahwa KinoFest 2025 diselenggarakan secara serentak di delapan negara, yakni Filipina, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, Timor Leste, Selandia Baru dan Indonesia.
“KinoFest 2025 menawarkan platform untuk mengeksplorasi narasi keluarga yang terus berkembang melalui lensa sinema Jerman,” ungkap Rumpf.
Ia menegaskan bahwa film-film yang diputar di festival ini memiliki satu benang merah, yaitu keluarga sebagai ruang yang tidak selalu personal, tetapi juga politis. Tempat yang bisa menjadi landasan, tetapi juga dapat melahirkan ketegangan atau bahkan pemberontakan.
“Dengan menghubungkan penonton lintas budaya melalui film, kami merayakan cerita-cerita yang menantang batas tradisional dan membuka dialog tentang apa arti keluarga hari ini,” imbuhnya.
Kurator KinoFest 2025 yang sebelumnya disebut oleh Mike Neuber sebagai warga Indonesia yang tinggal di Portugal, Lisabona Rahman, menekankan bahwa rangkaian film tahun 2025 dipilih secara khusus untuk menunjukkan bagaimana keluarga tidak lagi bisa dimaknai tunggal.
“Film-film Jerman di KinoFest 2025 mencerminkan kompleksitas keluarga dalam sejarah sosial, ideologis, dan ekonomi Jerman,” jelas Lisa.
Menurutnya, beberapa film justru menunjukkan bahwa ikatan keluarga bisa muncul dari tindakan perlawanan. Dalam tindakan bersama yang tidak sesuai tradisi, hubungan baru terbentuk dan komunitas diimajinasikan ulang.
Ada pula film-film yang menampilkan sisi gelap keluarga, ketika kasih sayang berubah menjadi manipulasi atau luka yang diwariskan.
“Banyak cerita yang menunjukkan bagaimana keibuan, misalnya, bisa menjadi sumber kecemasan sekaligus kekuatan dan perubahan,” kata Lisabona.
Untuk pemutaran perdana di Surabaya, Wisma Jerman memilih Vena (2024), film besutan Chiara Fleischhacker. Film tersebut mengikuti perjalanan pasangan muda yang terjebak dalam kehamilan tak direncanakan, tekanan hidup, hingga penggunaan crystal meth sebagai pelarian, sebelum seorang bidan memberikan jalan bagi mereka untuk memulai kembali.
KinoFest 2025 bukan hanya tempat menonton film. Dari Surabaya hingga kota-kota lain di Asia Tenggara, festival itu menjadi ruang pertemuan gagasan tentang arti keluarga yang terus berubah. Setiap film disajikan bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga mengundang penonton pulang dengan pertanyaan yang lebih dalam dari saat mereka datang.
Bagi Wisma Jerman sendiri, harapannya sederhana, setiap kursi terisi, para penonton pulang dengan pemikiran baru, dan setiap dialog kecil yang lahir setelah menonton film menjadi bagian dari pemaknaan ulang apa itu arti keluarga. (*)
Editor : Danu
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru