NGANJUK, SJP – Situs Sendang Gayam, yang terletak di desa Gondang Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk, bukan hanya dikenal karena nilai sejarahnya yang panjang, tetapi juga karena legenda yang hidup di kalangan masyarakat.
Menurut cerita rakyat, sendang ini memiliki kaitan erat dengan kisah cinta antara Joko Jepora dan Dewi Ayu Purwanti era masa transisi klasik ke islam.
Konon, untuk meminang Dewi Ayu Purwanti, Joko Jepora harus memenuhi persyaratan yang salah satunya adalah keberadaan sendang.
Sendang Gayam kemudian menjadi simbol dari perjuangan cinta dan pengorbanan. Cerita ini telah diwariskan dari generasi ke generasi, menambah nilai sakral sendang di mata masyarakat.
Selain legenda, Sendang Gayam juga menjadi pusat kegiatan ritual dan syukuran bagi warga sekitar. Pada masa lalu, masyarakat sering mengadakan ritual-ritual tertentu di sendang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan memohon keberkahan. Syukuran juga rutin diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan keselamatan desa.
Di situs sendang juga sering ditemukan benda kuno antara lain batu bata kuno, kramik, pecahan grabah, pusaka dan alat rumah tangga. Selain itu juga di temukan makam kuno yang di kenal wong suku kalang.
Sendang Gayam sekarang sudah berubah lebih berbeda dengan dulu, sekarang lokasinya ramai dari pengunjung dan banyak masyarakat yang datang. Beberapa kali juga masih masyarakat melakukan kegiatan ritual.
Situs Sendang gayam memiliki koleksi benda bersejarah yang bisa di lihat. Selain itu bisa di jadikan pembelajaran sejarah lokal buat anak pelajar maupun mahasiswa.
Situs sendang Gayam sudah tercatan di Dinas Kebudayaan dan pariwisata Jawa Timur dan di jaga secar resmi.
Sedang gayam salah satu potensi wisata sejarah budaya yang ada di desa Gondang maupun di wilayah Kabupaten Nganjuk.
Pemerhati sejarah yang aktif meneliti situs-situs kuno di Nganjuk, Aris Trio Effendi menjelaskan bahwa Sendang Gayam memiliki nilai historis yang sangat tinggi.
Menurutnya, sendang ini menjadi bukti nyata bagaimana budaya dan kepercayaan masyarakat Jawa mengalami transformasi dan akulturasi dari masa Hindu-Buddha hingga masuknya Islam.
“Sendang Gayam adalah representasi dari keberlanjutan budaya. Situs ini menunjukkan bagaimana elemen-elemen budaya lama tetap dipertahankan dan diadaptasi dalam konteks yang baru, menciptakan identitas budaya yang unik.” Ujar Aris, Minggu (9/11/2025)
Lebih lanjut, Aris menjelaskan bahwa Sendang Gayam pada awalnya mungkin berfungsi sebagai tempat pemujaan atau ritual keagamaan pada masa Hindu-Buddha.
Namun, seiring dengan masuknya Islam, fungsi dan makna sendang ini mengalami penyesuaian. Masyarakat tetap menghormati sendang ini, tetapi dengan cara yang selaras dengan ajaran Islam.
“Akulturasi budaya ini terlihat dari bagaimana tradisi-tradisi lama tetap dipertahankan, tetapi dengan sentuhan nilai-nilai Islam, Misalnya, ritual syukuran yang diadakan di sendang tetap ada, tetapi diisi dengan doa-doa dan kegiatan yang Islami,” pungkasnya (*)
Editor: Rizqi Ardian
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru