KOTA BLITAR, SJP — Cuaca ekstrem memicu bencana longsor pada talud sungai di wilayah Kelurahan/Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.
Insiden yang terjadi pada Ahad (18/1/2026) tersebut kini mengancam stabilitas bangunan warga dan memaksa otoritas setempat menutup total akses jembatan akibat risiko kerusakan struktur yang fatal.
Satu unit rumah milik warga bernama Togar dilaporkan berada dalam kondisi kritis. Retakan mulai merambat pada fondasi rumah yang letaknya bersinggungan langsung dengan bibir sungai.
Saat dikonfirmasi pada Selasa (20/1/2026), Togar mengungkapkan kekhawatirannya akan adanya longsor susulan yang dapat merobohkan huniannya.
“Setiap turun hujan, kami selalu waspada. Fondasi rumah sudah mulai retak dan kami sangat mengkhawatirkan adanya longsor lanjutan,” ujar dia saat ditemui.
Bencana ini bermula saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Sananwetan.
Talud sungai dengan dimensi lebar sekitar lima meter dan tinggi tujuh meter tersebut tiba-tiba runtuh.
Selain merusak struktur utama talud, material longsor juga menyeret pagar serta fasilitas penjemuran milik warga.
“Tanah bergerak secara mendadak. Diduga aliran air dari saluran drainase di depan rumah menggerus struktur bawah tanah hingga menyebabkan talud ambrol,” tambahnya.
Dampak longsor tidak hanya menyasar sektor privat, namun juga merusak infrastruktur publik.
Fondasi jembatan di sekitar lokasi terpantau mengalami pengikisan dan keretakan struktural. Guna mengantisipasi jatuhnya korban jiwa dan kerusakan lebih lanjut, petugas telah menutup total akses jembatan bagi seluruh jenis kendaraan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Blitar telah melakukan peninjauan lapangan dan melaksanakan langkah mitigasi awal.
Petugas memasang terpal penutup di area longsoran untuk meminimalisasi infiltrasi air hujan ke dalam tanah yang dapat memicu pergerakan tanah susulan.
Kepala BPBD Kota Blitar, Agus Suherli, menyatakan bahwa penanganan saat ini masih bersifat darurat. Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pimpinan daerah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis terkait untuk langkah rehabilitasi permanen.
“Kami telah melaksanakan penanganan darurat di lokasi. Laporan resmi sudah kami sampaikan kepada pimpinan dan OPD terkait guna mendapatkan penanganan lebih lanjut secara permanen,” tutup Agus. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru