GRESIK, SJP — Pemerintah Kabupaten Gresik mulai mengoptimalkan pengolahan sampah menjadi sumber energi baru terbarukan (EBT).
Melalui fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Ngipik, sampah kini diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif guna mendukung kebutuhan sektor industri.
Dari sampah yang tercatat masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Ngipik lebih dari 200 ton per hari, kapasitas dua mesin pengolahan RDF tersebut mencapai 200 ton per hari.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, mengatakan persoalan sampah adalah tantangan besar bagi seluruh daerah, termasuk Kabupaten Gresik.
Seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan kawasan industri serta pemukiman, volume timbulan sampah terus meningkat.
“Jika tidak dikelola dengan baik sampah akan menjadi beban lingkungan, sosial bahkan ekonomi,” kata Yani, Rabu (5/3/2026).
Yani mengungkap, mesin pengolahan sampah yang baru didatangkan sejak akhir tahun 2026 diharapkan bekerja maksimal.
Mesin Landfill Mining yang berfokus pada penambangan gunungan sampah berusia puluhan tahun di TPA diharapkan menjadi andalan.
Selain mengurangi tinggi gunungan, mesin itu diharap juga menghasilkan nilai ekonomi yakni berupa RDF maupun residu sampah guna urukan tanah.
“Menambang gunung sampah yang tertumpuk. Tujuannya agar lokasi TPA Ngipik longgar, gunungan sampah berkurang. Residu tanah yang bisa jadi urukan,” jelasnya.
Lanjut Yani, hasil pengolahan sampah berupa RDF ini telah dilakukan kesepakatan jual beli dengan sejumlah perusahaan untuk bahan bakar EBT, salah satunya yakni PT Semen Indonesia.
“RDF ini mendorong EBT dalam sebuah industri, salah satunya distribusi ke PT Semen Indonesia. Kita sudah lakukan MoU sejak tahun lalu,” pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru