SUARAJATIMPOST.COM – Bermain game bersama anak adalah salah satu cara terbaik untuk membangun kedekatan (bonding). Namun, sebagai orang tua, kita sering dihadapkan pada dilema klasik: Apakah kita harus selalu mengalah agar anak senang, atau tega menang demi melatih mereka menerima kekalahan?
Banyak orang tua khawatir bahwa sengaja mengalah adalah bentuk “manipulasi” yang mendidik anak dengan cara yang tidak jujur. Di sisi lain, membiarkan anak kalah terus-menerus atas nama “keadilan permainan” juga berisiko membuat mereka frustrasi dan kapok bermain. Lantas, bagaimana menyikapinya?
Tiga Pendekatan dan Dampaknya pada Anak
Dalam ilmu *parenting*, ada tiga pendekatan yang biasanya diambil orang tua, dan ketiganya memiliki dampak psikologis yang berbeda:
1.Selalu Mengalah: Ini baik untuk membangun rasa percaya diri anak di fase awal. Namun, jika dilakukan terus-menerus, anak akan tumbuh dengan ekspektasi keliru bahwa dunia luar akan selalu berjalan sesuai keinginan mereka.
2. Menang Tanpa Ampun: Bermain secara kompetitif murni memang melatih sportivitas. Namun, jika anak belum siap secara emosional, kekalahan beruntun bisa menghancurkan motivasi mereka untuk belajar.
3. Mengalah dengan Strategi (Mencari Titik Tengah): Ini adalah pendekatan di mana orang tua mengatur ritme permainan agar menantang, tetapi anak tetap memiliki peluang untuk menang.
Mengatur Ritme Bukan Kebohongan, Melainkan *Scaffolding*
Apakah mengatur permainan agar anak sesekali menang itu salah? Jawabannya: Tidak. Dalam dunia psikologi perkembangan, penyesuaian ini dikenal dengan istilah scaffolding (dukungan sementara).
Tujuannya bukan untuk membohongi anak selamanya, melainkan memberikan pijakan awal yang aman.
Kita menyesuaikan tingkat kesulitan permainan dengan kemampuan anak yang memang belum matang. Ini menjaga agar api motivasi dan rasa percaya diri mereka tidak padam sebelum berkembang.
Menemukan Titik Tengah yang Bijak
Kunci dari metode ini adalah transisi yang bertahap. Seiring bertambahnya usia dan kematangan emosional anak, orang tua harus perlahan-lahan mengurangi “bantuan” tersebut. Tarik diri Anda secara bertahap hingga permainan menjadi benar-benar adil dan kompetitif secara alami.
Saat anak akhirnya mengalami kekalahan yang nyata, di sinilah peran krusial orang tua masuk untuk memberikan dukungan emosional. Ajarkan mereka bahwa kalah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses belajar.
Dengan kombinasi kemenangan yang diusahakan dan kekalahan yang didampingi, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi realitas kehidupan yang sesungguhnya. (**)
Editor: Danu
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru