BOJONEGORO, SJP – Berawal dari program Sekolah Peternakan Rakyat (SPR), Kelompok Peternak SPR Mega Jaya di Dusun Ngantru, Desa Sekaran, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, kini mampu menjalankan aktivitas peternakan secara mandiri.
Kelompok yang dibentuk pada 2012 tersebut telah melewati perjalanan panjang. Setelah empat tahun mendapatkan pembinaan, SPR Mega Jaya mendeklarasikan diri sebagai kelompok mandiri pada 2016.
Kemandirian itu tidak berarti memutus hubungan dengan pemerintah. Hingga kini, kelompok tetap menjalin komunikasi dan mendapatkan pelayanan teknis dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan), terutama dalam bidang kesehatan hewan dan pemberian vitamin.
Sekretaris SPR Mega Jaya, Darwanto, mengatakan kemandirian kelompok menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan usaha para anggota.
“Walaupun kami sudah deklarasi mandiri tahun 2016, sampai sekarang masih terus ada pendampingan dan pelayanan dari Disnakkan, termasuk pelayanan kesehatan dan vitamin,” jelasnya.
Saat ini, SPR Mega Jaya memiliki 78 anggota. Puluhan peternak tersebut mengelola lebih dari 100 ekor sapi, dengan 58 ekor berada di dalam kandang dan lebih dari 60 ekor lainnya dipelihara di luar kandang.
Pengelolaan ternak juga dilakukan dengan sistem yang disepakati bersama. Dalam pola bagi hasil, pemilik ternak memperoleh 80 persen dari hasil penjualan, sedangkan 20 persen diberikan kepada kelompok atau penggaduh yang bertanggung jawab merawat sapi.
Sebanyak delapan orang kini aktif menjalankan peran sebagai penggaduh. Sistem tersebut membuat pengelolaan ternak tetap berjalan meski kepemilikan sapi berada pada anggota yang berbeda.
Darwanto menyebut kekuatan utama kelompok bukan semata jumlah ternak, melainkan kemampuan anggota untuk tetap bergerak dan mengelola usaha secara bersama-sama setelah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada program pembinaan.
Menurutnya, SPR Mega Jaya telah berkembang menjadi wadah ekonomi masyarakat. Aktivitas kelompok turut membuka ruang kerja bagi warga sekaligus memperkuat hubungan antarpeternak di Desa Sekaran.
Salah satu bentuk dukungan pemerintah yang masih dirasakan penting adalah pelayanan kesehatan hewan. Kecepatan petugas dalam merespons kondisi ternak dinilai sangat membantu peternak, terutama ketika sapi membutuhkan penanganan di luar jam kerja.
“Pelayanan kesehatan ini yang paling penting. Cepat tanggap. Bahkan jam 12 malam pun ketika dibutuhkan, petugas tetap datang,” ungkapnya.
Meski mampu bertahan secara mandiri, kelompok masih menghadapi kebutuhan penguatan infrastruktur. Darwanto berharap perhatian pemerintah terhadap peternak kecil tidak berhenti pada bantuan langsung, tetapi diarahkan pada fasilitas yang dapat meningkatkan efisiensi usaha.
Di antaranya pembangunan sumur bor untuk menjamin ketersediaan hijauan makanan ternak (HMT) serta jalan usaha tani (JUT). Infrastruktur tersebut dinilai dapat memangkas biaya, waktu, dan tenaga yang selama ini dikeluarkan peternak.
“Harapannya komitmen Pemkab tetap memperhatikan peternak kecil. Minimal sarana dan prasarana, seperti sumur bor untuk menjaga ketersediaan HMT dan pembangunan JUT agar bisa mengurangi cost, waktu, dan tenaga,” harapnya.
Di tengah perjalanan panjang tersebut, kondisi harga ternak saat ini juga masih dinilai cukup aman. Situasi pasar yang relatif mendukung menjadi modal tambahan bagi anggota untuk mempertahankan usaha.
Bagi SPR Mega Jaya, status mandiri bukan berarti berjalan sendiri. Kemandirian justru diwujudkan melalui kemampuan kelompok mengelola usaha, membangun sistem bagi hasil, mempertahankan keanggotaan, serta menjaga aktivitas peternakan tetap hidup dengan dukungan teknis pemerintah.
Perjalanan sejak 2012 hingga kini menjadi gambaran bahwa kelompok peternak di tingkat desa dapat berkembang dari program pembinaan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu bertahan dan mengelola usahanya secara mandiri. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru