TULUNGAGUNG, SJP – Pabrik Gula Mojopanggung di Tulungagung resmi memulai musim giling tahun 2026 dengan menggelar tasyakuran dan ritual manten tebu, Sabtu (9/5/2026) pagi. Tradisi tahunan tersebut menjadi simbol dimulainya proses pengolahan tebu sekaligus bentuk doa bersama agar musim giling berjalan lancar dan menghasilkan produksi optimal.
Prosesi manten tebu dilakukan dengan mengarak sepasang boneka pengantin bersama batang tebu mengelilingi area pabrik. Setelah itu, simbol manten tebu tersebut dimasukkan ke dalam mesin giling secara bersama-sama sebagai tanda dimulainya operasional penggilingan tebu tahun ini.
General Manager PG Mojopanggung, Sugiyanto mengatakan, ritual manten tebu memiliki makna filosofis tentang sinergi antara petani tebu dan pabrik gula.
“Makna manten tebu itu sebenarnya adalah wujud perkawinan dari dua lembaga yang berbeda yaitu sinergitas antara petani dengan pabrik gula. Harapannya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan menghasilkan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar,” ujar Sugiyanto.
Dalam sambutannya, Sugiyanto menyampaikan rasa syukur karena pembukaan musim giling 2026 dapat dihadiri langsung oleh Plt Bupati Tulungagung serta jajaran manajemen pusat PT Sinergi Gula Nusantara. Ia berharap musim giling tahun ini berjalan aman dan lancar, baik dari sisi produksi maupun operasional pabrik.
Menurut Sugiyanto, PG Mojopanggung menargetkan menggiling sekitar 446.123 ton tebu pada musim giling 2026. Pasokan tebu tersebut berasal dari areal seluas 6.783 hektare yang tersebar di lima daerah, yakni Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Tulungagung, dan Kabupaten Trenggalek.
Selain itu, pabrik juga menargetkan rendemen sebesar 7,21 persen dengan kapasitas giling minimal 2.864 ton cane per day (TCD). Sementara target produksi gula tahun ini dipatok mencapai 33.705 ton dengan lama masa giling sekitar 161 hari.
Sugiyanto mengungkapkan, capaian produksi tahun 2025 lalu belum sepenuhnya memenuhi target akibat pengaruh cuaca ekstrem La Nina yang berkepanjangan. Meski demikian, PG Mojopanggung tetap mampu memberikan kontribusi positif bagi perusahaan.
“Secara tonase tahun lalu sekitar 31 ribu ton dari target sekitar 33 ribu ton atau terealisasi sekitar 90 persen. Kendala utama memang faktor iklim dan cuaca,” katanya.
Sementara itu, Plt Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin menyatakan dukungannya terhadap peningkatan produksi tebu sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional dan swasembada gula.
Menurutnya, pemerintah daerah akan terus bersinergi dengan pabrik gula dan petani tebu untuk memperluas lahan tanam tanpa mengganggu produksi pangan lainnya.
“Jadi tebu atau gula ini juga termasuk ketahanan pangan, dan antara pemerintah dengan pabrik gula ini bisa bekerja sama untuk sinergi untuk meningkatkan produksi tebu,” ujarnya.
Ahmad Baharudin menyebut sektor pertanian masih menjadi penopang utama ekonomi Tulungagung. Pada 2025, luas areal tanaman tebu di Tulungagung mencapai sekitar 3.862 hektare dengan produksi mencapai 366.890 ton tebu basah.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga mendapat target dari Kementerian Pertanian pada 2026 berupa program bongkar ratoon seluas 1.055 hektare dan perluasan areal tanam tebu seluas 176 hektare.
Ia berharap kemitraan antara pabrik gula dan petani terus diperkuat agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung target swasembada gula nasional pada 2028.
“Dengan dimulainya musim giling ini, roda perekonomian di Kabupaten Tulungagung diharapkan semakin bergerak dan membawa dampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru