KOTA BATU, SJP – Sektor perhotelan di Kota Batu tengah menghadapi tantangan serius. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi mengungkapkan bahwa tingkat okupansi hotel sepanjang 2025 mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Diwawancarai pada Jumat (26/9/2025) ia menegaskan, berdasarkan catatannya penurunan tersebut mencapai kisaran 20-30 persen. Terlebih selama ini hotel di Kota Batu yang bersegmentasi Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) cukup difavoritkan, khususnya untuk agenda atau kegiatan kedinasan.
“Dari data yang dihimpun menunjukkan, segmentasi MICE menyumbang sekitar 60-65 persen dari total kegiatan dinas yang dilaksanakan di Kota Batu. Namun, kondisi itu tidak mampu mengangkat performa okupansi secara keseluruhan,” urainya.
Bahkan apabila dilakukan penotalan secara menyeluruh hingga saat ini, okupansi pada 2025 rata-rata hanya menyentuh 50 persen. Terlebih untuk hotel di bawah bintang lima, tingkat keterisian kamar hanya berkisar 30-40 persen.
Menurutnya, dampak penurunan okupansi tersebut cukup terasa terhadap pendapatan hotel. Efisiensi pembiayaan, terutama pada bahan dan operasional, menjadi langkah yang harus dilakukan oleh sebagian besar pengelola hotel. Beberapa agenda kedinasan yang sebelumnya rutin digelar di hotel bahkan terpaksa dibatalkan akibat adanya kebijakan penghematan.
“Pengurangan agenda di hotel tentu berimbas pada pendapatan. Ada beberapa agenda dinas yang terpaksa dicancel karena imbas efisiensi,” imbuhnya.
Dengan kondisi ini, pelaku industri perhotelan di Kota Batu harus beradaptasi menghadapi dinamika pasar. Penurunan okupansi yang terjadi pada 2024 menjadi pukulan berat, terlebih setelah sektor pariwisata mulai bangkit pascapandemi. (*)
Editor : Rizqi Ardian
Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru