KOTA BATU, SJP – Di tengah derasnya kritik terkait kemacetan dan keterbatasan akses menuju wisata Mikutopia, langkah konkret mulai terlihat di lapangan. Pelebaran jembatan di Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, menjadi salah satu upaya menjawab keluhan publik yang selama ini menyoroti buruknya infrastruktur penunjang kawasan wisata tersebut.
Kepala Desa Tulungrejo Suliyono pada Rabu (22/4/2026) menguraikan proyek yang digarap itu kini dikebut dengan sistem kerja 24 jam. Percepatan pembangunan dilakukan untuk mengurai persoalan klasik yang kerap muncul saat lonjakan wisatawan, yakni penumpukan kendaraan akibat akses yang sempit.
“Intinya pelebaran jembatan ini merupakan langkah penting yang sudah lama dinantikan, perbaikan akses menjadi kunci dalam menjawab berbagai kritik yang selama ini diarahkan pada keberadaan wisata baru tersebut.
Terlebih selama ini memang menjadi kendala utama, terutama saat musim libur. Dengan pelebaran ini, mobilitas warga dan wisatawan akan jauh lebih lancar,” ujarnya.
Sebelumnya, jembatan di titik tersebut hanya memiliki lebar sekitar 6 meter, sehingga tidak mampu dilalui dua kendaraan secara bersamaan.
Kondisi ini memicu kemacetan hingga harus diberlakukan sistem buka-tutup arus lalu lintas, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.
Kini, setelah diperlebar menjadi 10 meter, akses tersebut diproyeksikan mampu menampung dua arah kendaraan sekaligus.
Perubahan ini diharapkan tidak hanya mengurai kepadatan, tetapi juga meningkatkan faktor keselamatan pengguna jalan.
Lebih jauh, Suliyono menilai pembenahan infrastruktur ini sekaligus menjadi jawaban atas kritik yang menyebut pengembangan wisata berjalan tanpa kesiapan akses yang memadai.
Ia optimistis, dengan perbaikan yang dilakukan, dampak positif bagi masyarakat akan semakin terasa.
“Kami melihat ini sebagai solusi dari keluhan yang ada. Akses yang baik akan berdampak langsung pada ekonomi warga, mulai dari UMKM, pertanian, hingga sektor wisata itu sendiri,” imbuhnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di satu titik saja.
Masih ada sejumlah akses lain yang perlu ditingkatkan agar pertumbuhan wisata tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru