PASURUAN, SJP – Di tangan Mbah Mislicha (85), sebutir cilok bukan sekadar kudapan gurih yang dijajakan di lorong-lorong Gang Empat, Kelurahan Bugul Kidul. Bagi nenek yang telah mendorong gerobak selama setengah abad ini, setiap butir cilok adalah saksi bisu perjuangannya mengumpulkan rupiah demi rupiah demi satu tujuan: bersujud di depan Kakbah.
Meski langkahnya tak lagi tegap dan guratan usia memenuhi wajahnya, semangat Mislicha tidak pernah surut. Ketekunannya membuahkan hasil. Tahun 2026 ini, ia tercatat sebagai calon jemaah haji tertua asal Kota Pasuruan yang akan terbang ke Tanah Suci.
Perjalanan spiritual ini tidak didapatnya secara instan. Selama 50 tahun, ia konsisten memisahkan keuntungan dari usaha kecilnya untuk dimasukkan ke dalam tabungan haji. Tidak hanya dari tabungan harian, ia juga mengikuti arisan kecil untuk mempercepat terkumpulnya setoran awal.
“Sejak muda saya sudah ingin sekali naik haji. Saya menabung sedikit demi sedikit dari jualan cilok, setiap hari saya sisihkan,” ujar Mislicha dengan binar mata bahagia.
Kegigihan itu akhirnya membuahkan nominal Rp25 juta untuk pendaftaran resmi pada tahun 2017 silam. Penantian panjang selama sembilan tahun sejak mendaftar—atau lima dekade sejak pertama kali menabung—kini menemui ujungnya.
*“Saya tidak menyangka bisa berangkat sekarang. Alhamdulillah, ini seperti mimpi yang jadi kenyataan,” tambahnya dengan nada getir haru.
Tetap Berjualan di Ambang Keberangkatan
Yang menggetarkan hati, hingga menjelang keberangkatannya yang dijadwalkan pada Kamis (23/4/2026) nanti, Mbah Mislicha masih terlihat mendorong gerobak kecilnya. Baginya, bekerja adalah bentuk rasa syukur dan cara menjaga kebugaran fisik sebelum menempuh perjalanan jauh ke Mekkah.
Bahkan setelah ditinggal wafat suaminya 15 tahun lalu, gerobak itulah yang membantunya membesarkan delapan anak hingga kini memiliki 22 cucu. Sosoknya menjadi simbol ketangguhan seorang ibu sekaligus pejuang impian.
Mariatul Qibtiyah, sang putri yang akan mendampinginya di Kloter 10 Embarkasi Surabaya, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya.
“Ibu itu orangnya sangat tekun. Dari dahulu jualan cilok keliling tanpa kenal lelah. Saya ikut bantu jualan juga, dan sekarang alhamdulillah ibu bisa berangkat haji,” ungkap Mariatul.
Kisah Mbah Mislicha adalah pengingat bagi siapa saja bahwa panggilan ke Baitullah bukan hanya soal kekayaan materi, melainkan soal seberapa besar nyali dan ketekunan seseorang dalam menjemput mimpinya. (**)
Sumber: beritasatu.com
Editor: Danu
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru