SURABAYA, SJP – Di setiap sudut dunia, cerita rakyat hidup sebagai warisan yang membentuk identitas suatu bangsa. Kisah-kisah itu mungkin lahir dari masa lampau, namun nilainya tetap relevan, bahkan layak dipertukarkan seperti halnya budaya pop modern yang kini mendunia.
Semangat pertukaran itulah yang dihidupkan dalam Lomba Menggambar Anak & Remaja Tingkat Jawa Timur 2026, ketika cerita rakyat Indonesia dan Jepang dipadukan dalam imajinasi anak-anak.
Digelar oleh Lotus Art Courses (LAC) bersama Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Surabaya, ajang itu kembali hadir untuk keempat kalinya dengan mengangkat tema “Cerita Rakyat Jepang dan Indonesia”. Ratusan peserta menuangkan kreativitas mereka dengan menggabungkan dua kisah lintas budaya dalam satu karya visual.
Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, Takonai Susumu, dalam acara puncak penghargaan yang berlangsung di Kantor Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar lomba seni, tetapi juga sarana mempererat hubungan kedua negara sejak usia dini.

“Jadi upaya lomba ini tentu saja bertujuan untuk mempererat hubungan Jepang dan Indonesia, khususnya anak-anak kecil yang akan menjadi jembatan persahabatan Jepang dan Indonesia pada masa mendatang juga,” ungkap Susumu, Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, kekuatan utama lomba ini terletak pada bagaimana peserta mampu menggabungkan dua cerita rakyat berbeda menjadi satu karya yang utuh. Proses kreatif tersebut dinilai sebagai simbol nyata kolaborasi budaya.
“Proses kreatif dalam mengkolaborasikan dua budaya menjadi utuh menjadi salah satu unsur yang sangat penting bagi kami untuk menilai,” ucap Konsul Jenderal yang baru menjabat pada pertengahan tahun 2025 lalu itu.
Tak hanya itu, Konjen Jepang di Surabaya juga terus mendorong pertukaran budaya melalui berbagai agenda lain sepanjang tahun, seperti Festival Yosakoi yang akan digelar pada 12 Juli di Surabaya, hingga pameran pendidikan dan kegiatan seni budaya lainnya.

“Pertukaran dan saling pengertian di antara anak-anak yang akan memimpin masa depan hubungan Jepang dan Indonesia sangatlah penting,” imbuh Susumu.
Sementara itu, Founder Lotus Art Courses, I Putu Mahendra, menyebut tema cerita rakyat dipilih dalam edisi kali ini karena memiliki kedekatan dengan nilai-nilai kearifan lokal di kedua negara, sekaligus menjadi media literasi yang menarik bagi anak-anak.
“Karena kita mengangkat budaya literasi juga karena berkaitan dengan kearifan lokal setiap negara, yaitu cerita rakyat Indonesia-Jepang,” terang Putu.
Ia menambahkan, antusiasme peserta tahun ini cukup tinggi, lomba yang dibuka untuk umum itu berhasil menerima sekitar 250 karya anak hingga remaja selama periode lomba yang berlangsung sekitar tiga bulan.

“Puji syukur hasilnya juga mengembirakan. Ratusan karya masuk dan tampilan visual yang menarik,” bebernya.
Menurutnya, lomba ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang apresiasi dan eksplorasi bagi anak-anak untuk mengenal budaya lintas negara melalui seni.
“Nah ini sebuah ruang yang bagus untuk bisa mengapresi karya seni, sekaligus mengenalkan juga bagaimana anak-anak itu tentunya pasti mencari tahu cerita-cerita rakyat dari negara Indonesia dan Jepang itu seperti apa kemudian dikolaborasikan,” tandas Putu.
Dalam proses penjurian, dewan juri yang terdiri dari Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Takonai Susumu, I Putu Mahendra sendiri, dan juri tamu yaitu Satria Wicaksana dari Inkala Art & Design harus bekerja ekstra karena banyaknya karya unik dan berkualitas. Dari setiap kategori usia, dipilih lima karya terbaik.

Adapun kategori lomba dibagi menjadi tiga kelompok usia, yaitu kategori A (5–7 tahun), kategori B (8–11 tahun), dan kategori C (12–15 tahun).
Pemenang Kategori A:
- Ryu Marcello Sie
- Abigail Kayla Pawitan Sudarma
- Arsakha Rasydan Ahnaf
- Miratussany Mahiera P
- Michella J Tongku
Pemenang Kategori B:
- Alesha Khaliluna P
- Naisyah Prameswari
- Abiyan Mars Dandelion
- Gempita Rizkya Ramadhani
- Yovita Michaela Permatasari
Pemenang Kategori C:
- Devara Kenzie Archieawan
- Sebastian Tan
- Clive Alexander Wang
- Muhammad Fakhry Nafi Abdillah
- Talia Tirza
Di antara para peserta, kreativitas anak-anak terlihat dalam cara mereka memadukan dua dunia cerita menjadi satu gambar. Salah satunya datang dari Miratussany Mahiera P, peserta berusia 6 tahun asal Madiun yang masuk dalam karya terbaik kategori A.
Ia menggabungkan kisah Joko Tarub dan Nawang Wulan dengan legenda Putri Kaguya dari Jepang dalam satu lukisan.
“Aku menggambar ini namanya ‘7 Bidadari (Joko Tarub & Nawang Wulan) Bermandikan Cahaya Bulan dengan Putri Kaguya’,” jelas Mira dengan lugu.
Meski mengaku sempat mengalami kesulitan, ia tetap menikmati proses menggambar, terlebih karena dukungan penuh dari orangtuanya yang merasa Mira sedang dalam proses mencari minat dan bakatnya.

“Iya sempat kesulitannya agak bingung kalau (menggabungkan dua budaya) jadi satu gambar gimana caranya,” kata Mira.
Namun, kecintaannya pada tokoh-tokoh dalam cerita membuatnya terus berkreasi. Terlebih saat melihat-lihat bagaimana penggambaran Putri Kaguya, Mira merasa penampilannya cantik dan lucu.
“Paling suka sama Putri Kaguya-nya karena lucu, cantik gitu ya,” tukasnya.
Sejak usia tiga tahun, Miratussany sudah gemar menggambar, dan kini ia menjadi salah satu contoh bagaimana imajinasi anak mampu menjembatani dua budaya berbeda dalam satu karya.
Melalui lomba ini, cerita rakyat tak lagi sekadar warisan masa lalu, tetapi juga menjadi medium hidup yang menghubungkan generasi muda lintas negara, membangun pemahaman, persahabatan, dan masa depan yang lebih dekat antara Indonesia dan Jepang. (***)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru