SUARAJATIMPOST.COM — Kita sedang menghadapi kerusakan lingkungan hidup yang nyata dan ekstrim. Sekali lagi, kerusakan yang nyata, bukan semu apalagi khayalan. Maka, kita dapat mengatakan bahwa kondisi planet bumi sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Kondisi ini dipertegas oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa ekosistem bumi sudah rusak dan sedang mengalami tiga krisis yaitu perubahan iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati.
Program Lingkungan PBB (UNEP) menegaskan bahwa kondisi krisis tersebut berbahaya bagi manusia. Sebab, rusaknya ekosistem bumi dapat mengancam ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan manusia, jutaan spesies tumbuhan dan hewan di dunia terncam punah, dan mengancam sistem pangan global. Maka, tidak mengherankan apabila Sekjen PBB Antonio Guterres (2021) memberikan peringatan berupa “kode merah bagi umat manusia” terkait kondisi krisis bumi.
Bagaimana dengan kondisi lingkungan hidup di Indonesia? Kondisi lingkungan hidup di Indonesia saat ini sedang mengalami kritis. Bahkan menurut laporan baik nasional maupun internasional, Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat kerusakan lingkungan tertinggi di dunia (Indonesia Environment & Energy Center, 2025).
Kerusakan lingkungan di Indonesia yang utama adalah menyoal deforestasi dan alih fungsi lahan. Berdasarkan laporan dari Yayasan Auriga Nusantara (2025), laju deforentasi di Indonesia selama tahun 2025 mengalami lonjakan 66% yaitu mencapai 433.751 hektare dibandingkan tahun 2024 sebanyak 261.575 hektare. Semenara, data Kementerian Kehutanan (2026) terkait kebakaran hutan periode Januari-Juli 2026 mencapai 202. 004, 30 hektare. Data tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2025 yaitu naik 65% dari 82.791,04 hektare. Sedangkan menurut laporan Madani Berkelanjutan (2026) luas kebakaran hutan dan lahan di periode bulan Januari-Agustus 2026 mencapai 1,32 juta hektare yang terkonsentrasi di wilakayah kalimantan dan Sumatra.
Sebab utama dari beberapa fakta dan realitas krisis bumi dan kondisi kritis lingkungan hidup tersebut adalah perilaku manusia. Psikologi Lingkungan sebagai cabang ilmu psikologi yang mempelajari hubungan timbal-balik antara manusia dengan lingkungan mengakui bahwa perilaku manusia adalah penentu utama apakah sebagai sumber permasalahan lingkungan, atau sebagai sumber keberlanjutan lingkungan.
Perilaku Berkelanjutan
Sepertinya, saat ini, kita sebagai manusia sedang menghadapi situasi sulit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasi sulit antara pemenuhan kebutuhan untuk hidup dan keinginan yang justru mengancam ketersediaan sumber daya alam. Jika hal ini terus berlanjut, tentu, sumber daya tersebut tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan manusia di masa mendatang.
Mengapa ketersediaan dan ketercukupan sumber daya alam perlu dipikirkan keberlanjutannya? Jawabannya sederhana, untuk kelestarian makhluk hidup tidak terkecuali spesies manusia. Sebab, kelangsungan hidup dan kelestarian manusia sangat bergantung kepada bagaimana kemampuan kita untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam.
Seorang pakar ekonomi bernama Julian Simon dari Universitas Maryland, Amerika Serikat memberikan pendapat bahwa sumber daya alam berlimpah, bahkan dianggap tidak terbatas. Kok bisa demikian? Julian Simon menggunakan konsep tukar-menukar atau pergantian, bahwa ketidakterbatasan sumber daya alam ketika pasokan energi berbahan fosil sudah menipis, maka manusia akan beralih ke sumber daya yang lain. Misalnya, energi fosil menipis beralih ke energi nuklir, energi nuklir menipis pindah ke energi surya, lalu ke energi terbarukan lainnya. Demikian seterusnya, maka, sumber daya dianggap tidak terbatas karena manusia akan menemukan teknologi-teknologi baru sebagai penggantinya.
Thomas Robert Malthus, seorang pakar demografi dan ekonomi politik dari Inggris membantah pendapat Julian Simon tersebut. Thomas Robert Malthus memiliki pemikiran bahwa sumber daya alam bisa sampai kepada satu titik kelangkaan dengan menggunakan teori deret ukur dan deret hitung. Bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, dan seterusnya). Sedangkan produksi pangan mengikuti deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan seterusnya). Atau, dengan fakta bahwa laju pengambilan atau pengerukan sumber daya alam yang melampui batas (bukan berdasarkan kebutuhan tetapi keinginan), munculnya dampak pencemaran (air, tanah, dan udara) dan kerusakan, serta melampui kemampuan pemulihan planet bumi sehingga jaminan keberlanjutan di masa mendatang menjadi terancam.
Kebutuhan manusia terhadap sumber daya alam meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan populasi. Juga keinginan untuk mencapai kehidupan yang layak. Atau, bahkan keinginan untuk melampui capaian kehidupan yang layak yaitu keserakahan. Sementara, ketersediaan sumber daya alam semakin langka, banyak yang sudah tercemar, dan mengalami kerusakan. Situasi inilah yang saya sebut sebagai sebuah dilema lingkungan.
Dilema lingkungan ini kemudian mewujud sebagai konflik antara kebutuhan dan keinginan manusia. Konflik semakin tidak terkendali ketika kebutuhan manusia berhadapan dengan keserakahan untuk mengonsumsi lebih banyak sumber daya alam. Sementara, di sisi lain, manusia juga memiliki kebutuhan untuk melestarikan suber daya alam.
Hubungan dilematis lingkungan dengan kebutuhan dan keinginan, bahkan keserakahan manusia. Mengingatkan kita kepada pernyataan Mahatma Gandhi, bahwa “Bumi ini cukup untuk mememnuhi kebutuhan manusia, tetapi tak kan cukup memenuhi keserakahan manusia”. Apalagi seseorang yang sudah ketagihan terhadap keserakahan. Maka, yang terjadi hanya perpindahan dari keserakahan yang satu ke keserakahan yang lain. Mengapa serakah dapat dikelompokkan sebagai adiksi (kecanduan) perilaku? Sebab, apa-apa yang diinginkan terpenuhi. Keinginan yang terpenuhi akan menghasilkan dopamin yang menciptakan rasa senang dan puas. Disinilah brains rewads system berkerja sehingga memunculkan perpindahan perilaku serakah yaitu dari keserakahan satu ke keserakahan yang lain, dan demikian seterusnya.
Saat ini, kita sudah merasakan dampak dari krisis planet bumi. Beberapa dampak yang sederhana, misalkan, suhu udara yang semakin meningkat. Bahkan sebulan terakhir ini di Jawa Timur tercatat mencapai 39,2 derajat celcius yang terjadi di wilayah Lamongan. Sementara di wilayah Bojonegoro mencapai 38,4 derajat celcius. Musim juga mengalami pergeseran yang tentu berdampak kepada para petani terkait rusaknya siklus tanam yang mengancam penurunan produktivitas dan gagal panen. Dampak kebakaran hutan dan lahan di tahun 2026 menurut Kementerian Kesehatan mencapai 333.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), selain sekolah-sekolah juga banyak yang diliburkan karena kabut asap.
Perilaku yang berkelanjutan adalah kunci untuk secara perlahan memulihkan kondisi bumi. Salah satu ciri perilaku berkelanjutan adalah berorientasi kepada masa depan. Bukan orientasi kepada pemenuhan masa depan keserakahan, tetapi berorientasi kepada konservasi dan kelestarian sumber daya alam. Bahwa generasi spesies manusia masih layak menempati di planet bumi ini bahkan untuk jutaan atau milyaran tahun yang akan datang.
Penulis: Sunarno
(Dosen Psikologi Sosial di UIN Syekh Wasil Kediri)
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru