MOJOKERTO, SJP–Upaya mengungkap tabir kemegahan Ibu Kota Kerajaan Majapahit di wilayah Trowulan kembali membuahkan hasil signifikan. Kegiatan ekskavasi arkeologi yang berlokasi di Situs Sentonorejo, Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, berhasil mengonfirmasi bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan area permukiman elit pada masa kejayaan Majapahit.
Temuan penting ini diperoleh dari hasil penggalian intensif yang berlangsung selama dua pekan, mulai tanggal 24 Juni hingga 8 Juli 2026. Agenda arkeologis ini terlaksana berkat kolaborasi strategis antara Balai Pelestarian Kebudayaan (BPKW) Wilayah XI Jawa Timur dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Titik penggalian difokuskan pada area strategis yang memiliki potensi arkeologis tinggi. Petugas gabungan melakukan pemetaan dan penggalian secara sistematis untuk menelusuri jejak struktur yang masih terpendam di dalam tanah.
“Fokus penggalian di lahan kosong yang sebelumnya telah dibebaskan BPKW XI Jatim yang berada di sebelah barat Situs Umpak,” kata Ketua Tim Ekskavasi Situs Sentonorejo, Muhammad Ichwan, Selasa (7/7/2026).
Ichwan menjelaskan bahwa kawasan Sentonorejo dikenal memiliki densitas temuan purbakala yang luar biasa tinggi. Proses ekskavasi kali ini terbukti efektif dalam memetakan sisa-sisa tata ruang kuno.
“Situs Sentonorejo ini kompleks yang sangat padat. Dari hasil penggalian arkeologi sudah membuahkan hasil. Para arkeolog menemukan struktur purbakala, baik dari bata merah kuno maupun bebatuan sungai,” jelas Ichwan.
Dalam menjalankan misi penyelamatan dan penelitian sejarah ini, BPKW Wilayah XI Jawa Timur mengerahkan tim gabungan dengan total kekuatan 33 personel. Komposisi tim sengaja melibatkan masyarakat lokal guna mendukung aspek teknis di lapangan.
Setelah melakukan penggalian bertahap hingga menyentuh kedalaman sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah saat ini, tim berhasil menampakkan artefak struktural yang masif. Mereka menemukan susunan batuan yang merepresentasikan pola tata ruang dan pembagian fungsi bangunan masa lalu. Struktur tersebut berupa lantai bata dengan orientasi memanjang yang kuat dugaan berfungsi sebagai pembatas atau penyekat antar-ruangan.
“Ada juga struktur tatanan batu bulat-bulat (bolder) yang merupakan lantai dengan bahan batu sungai. Karakteristik ini juga ditemukan di Situs Segaran, sehingga kami dapatkan pemukiman yang disinyalir era Kerajaan Majapahit,” ungkapnya.
Berdasarkan komparasi data arkeologis, struktur arsitektur yang ditemukan di Sentonorejo memiliki keunikan tersendiri. Karakteristik fisiknya berbeda secara visual maupun fungsi jika disandingkan dengan situs-situs besar Majapahit lainnya di wilayah Mojokerto, seperti Situs Kumitir maupun Situs Klinterejo.
Analisis sementara tim peneliti mengarah pada kesimpulan bahwa Situs Sentonorejo memegang peranan vital sebagai pusat hunian kelas atas atau wilayah tempat tinggal para bangsawan dan pejabat tinggi kerajaan di Ibu Kota Majapahit.
“Berdasarkan hasil dari peneliti mensinyalir di Sentonorejo area penting dari Trowulan sebagai bekas Ibu Kota Majapahit. Para ahli menyimpulkan sementara disini sebagai pemukiman elit,” bebernya.
Perbedaan pola ruang ini terlihat jelas dari susunan horizontal material pembentuk lantai dan sistem pembatas lahan atau pagar yang ditemukan di plot penggalian.
“Menurutnya, temuan di sini berbeda karakter dengan Situs Kumitir maupun Klinterejo. Ada struktur rata horizontal, apakah ini lantai permukiman dan pagar-pagarnya, ada semacam lantai dari bata. Di sisi utara ada tatanan batu kali (sungai), apakah itu lantai atau jalan,” ujarnya.
Status Sentonorejo sebagai kawasan permukiman elit didukung kuat oleh keberadaan situs-situs pendukung di sekitarnya yang saling terintegrasi secara fungsional. Beberapa di antaranya meliputi: Situs Sumur Upas, bekas area permukiman yang dilengkapi dengan candi pemujaan; Situs Umpak, area yang ditandai dengan keberadaan batu-batu umpak berukuran masif, bekas fondasi bangunan megah; Situs Lantai Segienam, bukti penerapan teknologi pengerasan permukaan tanah (paving) yang sangat maju pada masanya.
Temuan lantai segienam ini menjadi salah satu bukti otentik paling kuat mengenai tingginya peradaban dan kemampuan rekayasa teknik sipil masyarakat Majapahit. Desain geometris segienam tersebut tidak hanya mengejar nilai estetika visual, melainkan juga memperhitungkan aspek kekuatan struktural (mekanika teknik).
“Ternyata paving block segienam sudah ada sejak zaman Majapahit. Teknologi yang sudah maju, baik secara estetika maupun kunciannya lebih rapat, tidak mudah lepas,” pungkas Ichwan.
Hasil ekskavasi ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi BPKW Wilayah XI Jawa Timur dan para akademisi untuk menyusun rekonstruksi spasial Ibu Kota Majapahit secara lebih utuh dan presisi pada masa mendatang. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru