KOTA BATU, SJP – Kenaikan harga tepung mulai dirasakan pedagang di Pasar Induk Among Tani, Kota Batu. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp 12 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp 13 ribu untuk tepung curah dan eceran. Sementara tepung protein bahkan bisa mencapai Rp 14 ribu per kilogram.
Kenaikan tersebut disebut dipicu meningkatnya harga dari distributor. Kondisi itu membuat pedagang tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual kepada konsumen.
Haji Solikin, salah satu pedagang di Pasar Induk Among Tani, mengatakan kenaikan harga dari distributor berdampak langsung terhadap harga jual di tingkat pasar. Selain faktor distribusi, ia juga menilai musim kemarau panjang turut memengaruhi hasil panen gandum sehingga berdampak pada ketersediaan bahan baku.
“Kenaikan harga tersebut mulai berimbas pada daya beli masyarakat dimana jumlah penjualan tepung mengalami penurunan cukup tajam. Jika sebelumnya dalam sehari ia bisa menjual sekitar 3 hingga 4 kuintal, kini penjualannya hanya berkisar 1 hingga 1,5 kuintal per hari,” imbuhnya.
Penurunan itu menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya membebani konsumen, tetapi juga memengaruhi perputaran usaha pedagang. Ketika harga jual meningkat, masyarakat cenderung mengurangi pembelian sehingga volume perdagangan ikut menyusut.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, Herlina Sambodo, menjelaskan bahwa berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH), hingga akhir minggu ke-44 belum terlihat kenaikan harga tepung di Kota Batu. IPH merupakan indikator statistik untuk mengukur fluktuasi harga dari 20 komoditas pangan yang dipantau.
“Berdasarkan rata-rata mingguan selama Oktober atau mulai minggu ke-40 hingga minggu ke-44, harga tepung di Pasar Among Tani masih tercatat sekitar Rp 12 ribu. Adapun data untuk minggu ini masih dalam proses pengumpulan dan baru akan digunakan dalam penghitungan setelah seluruh data hingga akhir minggu terkumpul,” paparnya.
Oleh sebab itu, untuk data IPH, sampai akhir minggu ke-44 tercatat belum ada kenaikan harga. sehingga rata-rata per minggu, minggu ke-40 sampai 44 selama Oktober, rata-rata harga tepung di Among Tani masih Rp 12 ribu.
Di sisi lain, berdasarkan penghitungan inflasi menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis pada 2 November, komoditas tepung belum masuk sebagai penyumbang inflasi pada Oktober. Herlina menjelaskan, karena Kota Batu tidak melakukan penghitungan inflasi sendiri, BPS menggunakan pendekatan data inflasi Kota Malang. Dengan demikian, harga tepung di Kota Malang pada bulan lalu juga relatif stabil.
Meski demikian, BPS Kota Batu akan terus memantau perkembangan harga tepung yang dalam beberapa hari terakhir mengalami kenaikan di Pasar Among Tani. Pergerakan tersebut nantinya akan terlihat dalam data IPH minggu berikutnya untuk mengetahui apakah kenaikannya cukup signifikan dalam memengaruhi perkembangan harga komoditas pangan secara umum di Kota Batu.
“Pemantauan akan terus dilakukan sebagai langkah mitigasi terhadap kemungkinan kenaikan harga komoditas pangan lainnya. Data perkembangan harga tersebut selanjutnya akan menjadi bahan diskusi bersama para pemangku kepentingan terkait,” pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru