JOMBANG, SJP — Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdussalam Shohib atau yang karib disapa Gus Salam, gencar melakukan konsolidasi dan kunjungan silaturahmi ke sejumlah kiai sepuh serta jajaran struktur organisasi NU.
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur ini menegaskan bahwa gerilya silaturahmi yang ia lakukan merupakan bagian dari ikhtiar mencari kepercayaan dan restu, bukan semata-mata sebagai agenda pencalonan formal.
Langkah tersebut semakin menguatkan kabar yang beredar luas di publik bahwa cucu salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri, itu siap untuk maju sebagai Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ditemui di Ndalem Kesepuhan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar pada Selasa (14/4/2026), Gus Salam mengaku kurang nyaman dengan diksi ‘mencalonkan’ atau ‘dicalonkan’ dalam konteks organisasi NU.
Menurutnya, dinamika di tubuh NU lebih menekankan pada aspek pengabdian (khidmah), bukan kontestasi layaknya partai politik atau birokrasi pemerintahan.
“Di NU itu perspektifnya adalah pengabdian. Karena itu, saya lebih memilih menyebutnya sebagai ikhtiar mencari kepercayaan,” ujar Gus Salam kepada awak media.
Dalam kurun waktu terakhir, Gus Salam mengaku telah bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak kiai sepuh serta pengasuh pondok pesantren di berbagai wilayah, terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Kunjungan tersebut ia lakukan semata-mata untuk memohon doa serta restu sebagai bekal utama dalam perjalanan pengabdiannya di NU.
Tak hanya kepada para masyayikh, komunikasi intens juga ia bangun dengan jajaran Pengurus Wilayah (PW) hingga Pengurus Cabang (PC) NU.
Ia menargetkan mampu menjangkau 80 hingga 90 persen struktur organisasi sebelum muktamar resmi digelar.
Mengenai teknis pelaksanaan Muktamar, Gus Salam menyuarakan harapannya agar segera ada kepastian waktu dan tempat. Ia menilai kejelasan jadwal tersebut krusial untuk memastikan roda organisasi kembali berjalan normal, mengingat masih banyaknya kepengurusan di tingkat daerah yang statusnya belum definitif.
“Banyak SK di tingkat cabang yang sudah tidak aktif, ada yang masih berstatus karateker, bahkan ada yang sudah berjalan lebih dari satu tahun. Ini tentu mengganggu kinerja organisasi secara keseluruhan,” jelasnya.
Selain itu, Gus Salam menekankan pentingnya rekonsiliasi internal sebagai fondasi utama dalam memperkuat NU ke depan. Ia berpandangan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal lumrah dalam organisasi besar, namun jangan sampai berujung pada perpecahan yang melemahkan.
“Yang paling prinsip adalah rekonsiliasi total. NU ini organisasi besar dengan kepercayaan umat yang tinggi, sehingga persatuan dan kebersamaan harus dijaga,” tegasnya.
Dukungan terhadap figur Gus Salam turut mengalir dari kalangan alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar.
Pembina Ikatan Keluarga Alumni pondok tersebut, Sholahudin Fathurohman, menyatakan bahwa pihaknya bersama dzuriah (keturunan) KH Bisri Syansuri telah menggelar musyawarah dan bersepakat untuk mendorong Gus Salam maju dalam kontestasi muktamar.
Menurut Sholahudin, keputusan bulat itu diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kedalaman keilmuan, kapasitas berorganisasi, hingga legitimasi dzuriah yang kuat di lingkungan pesantren.
“Kami sepakat meminta beliau untuk maju. Secara keilmuan dan kapabilitas, kami tidak meragukan,” ungkap Sholahudin di lokasi yang sama.
Meski memberikan dukungan penuh, Sholahudin menyadari bahwa kalangan alumni tidak memiliki hak suara langsung dalam muktamar. Dukungan yang diberikan lebih bersifat moral melalui doa serta ikhtiar yang sesuai dengan kapasitas mereka.
“Kalau kami hanya bisa berdoa, maka itu yang kami lakukan. Harapannya, ikhtiar ini bisa membawa kebaikan bagi NU ke depan,” pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru