MALANG, SJP – Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan akademik mahasiswa. Teknologi ini hadir sebagai alat bantu untuk mencari informasi, memahami materi perkuliahan, menyusun gagasan, hingga mendukung berbagai aktivitas pembelajaran.
Di balik manfaat tersebut, penggunaan AI juga menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari persoalan integritas akademik, perlindungan data, ketergantungan terhadap teknologi, hingga kesenjangan akses terhadap perangkat dan jaringan internet.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim peneliti yang diketuai Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA., melakukan penelitian bertajuk “Model Adopsi Kecerdasan Artifisial yang Inklusif dan Etis bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi: Peran Literasi Digital, Pengaruh Sosial, dan Kesenjangan Digital.”
Penelitian tersebut bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan mahasiswa dalam menggunakan AI secara bertanggung jawab, sekaligus melihat berbagai hambatan yang berpotensi membuat manfaat teknologi tersebut belum dapat dirasakan secara merata. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 408 responden mahasiswa.
Model penelitian mengembangkan kerangka penerimaan teknologi dengan memasukkan literasi digital, pengaruh sosial, dan kesenjangan digital sebagai faktor penting dalam mendorong adopsi AI yang etis. Melalui pendekatan tersebut, penelitian tidak hanya melihat sejauh mana mahasiswa memiliki kemauan untuk menggunakan AI, tetapi juga kesiapan mereka dalam memanfaatkan teknologi secara kritis, aman, dan tetap sesuai dengan nilai-nilai akademik.
Literasi Digital Berperan Penting
Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi digital berpengaruh signifikan terhadap adopsi AI yang etis. Temuan ini memperlihatkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam menggunakan AI tidak cukup hanya sebatas mengoperasikan aplikasi atau memanfaatkan fitur yang tersedia.
Mahasiswa juga dituntut memiliki kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi, memahami keterbatasan keluaran AI, menjaga keamanan data pribadi, mencantumkan penggunaan AI secara jujur, serta tetap bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan akademiknya.
Selain literasi digital, pengaruh sosial juga terbukti signifikan. Dukungan serta keteladanan dari dosen, teman sebaya, maupun lingkungan perguruan tinggi turut membentuk cara mahasiswa dalam menerima dan menggunakan AI. Karena itu, kebijakan yang diterapkan perguruan tinggi dan keteladanan dosen memiliki posisi penting dalam membangun pemahaman bahwa AI merupakan alat bantu pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir mahasiswa.
Kesenjangan Digital Masih Menjadi Tantangan
Kesenjangan digital juga terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap adopsi AI. Perbedaan kualitas perangkat, akses internet, keterampilan digital, hingga kemampuan memperoleh layanan AI berpotensi menciptakan pengalaman belajar yang tidak setara di kalangan mahasiswa.
Meski demikian, hasil pengujian menunjukkan bahwa kesenjangan digital tidak memoderasi hubungan antara faktor-faktor utama dengan adopsi AI. Dengan demikian, kesenjangan digital lebih tepat dipahami sebagai faktor yang memberikan pengaruh secara langsung, bukan sebagai kondisi yang memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut.
Temuan tersebut memberikan pesan penting bagi perguruan tinggi. Pengembangan AI dalam pembelajaran perlu berjalan beriringan dengan peningkatan literasi digital sekaligus pemerataan akses teknologi. Perguruan tinggi dapat mengambil langkah melalui penyusunan pedoman penggunaan AI, pelatihan mengenai etika dan verifikasi informasi, penguatan perlindungan data, hingga penyediaan dukungan perangkat dan konektivitas bagi mahasiswa yang membutuhkan.
Perkuat Kolaborasi Internasional
Penelitian ini juga dilaksanakan melalui kolaborasi internasional bersama Dr. Rosila Bee Binti Mohd Hussain dari Universiti Malaya. Kolaborasi tersebut mencakup diskusi pelaksanaan penelitian, pengolahan dan analisis data, penyusunan artikel ilmiah, serta proses penelaahan dan penyempurnaan naskah. Keterlibatan mitra internasional turut memperkaya perspektif penelitian sekaligus memperkuat jejaring akademik antara Universitas Brawijaya dan Universiti Malaya.
Luaran penelitian kemudian dituangkan dalam artikel berjudul “Bridging the Artificial Intelligence Divide in Higher Education: Digital Literacy, Social Influence, and Ethical AI Adoption among University Students.” Artikel tersebut telah diterima pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q4. Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa isu kesenjangan digital dan penggunaan AI secara etis menjadi bagian penting dalam perkembangan pendidikan tinggi di tengah pesatnya transformasi teknologi.
Dipaparkan dalam Monitoring dan Evaluasi Dosen Berkarya
Perkembangan penelitian dan pencapaian luaran tersebut turut dipaparkan dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program Dosen Berkarya Universitas Brawijaya Tahun 2026 yang berlangsung pada Senin, 31 Agustus 2026, di FIB Gedung A Lantai 2.
Dalam kegiatan tersebut, tim memaparkan proses penelitian, pembagian peran anggota, perkembangan laporan, dokumen kolaborasi, hingga capaian publikasi. Masukan yang diperoleh selama kegiatan monitoring dan evaluasi selanjutnya digunakan untuk menyempurnakan pelaksanaan program dan memastikan seluruh luaran dapat terpenuhi.
Tahapan berikutnya meliputi penyelesaian laporan akhir dan laporan keuangan, penguatan dokumen kerja sama, pemutakhiran data kegiatan pada portal SISTER, serta penyusunan laporan hasil kolaborasi.
Secara praktis, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu dasar bagi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pembelajaran berbasis AI yang tidak hanya inovatif, tetapi juga adil dan bertanggung jawab. Pedoman penggunaan yang jelas diperlukan agar mahasiswa memahami batas pemanfaatan AI, tetap menjaga orisinalitas karya, serta mampu menilai dan menggunakan keluaran teknologi secara kritis.
Penelitian ini juga mendukung sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kolaborasi akademik lintas negara.
Melalui penelitian tersebut, Universitas Brawijaya menegaskan pentingnya transformasi pendidikan tinggi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan prinsip inklusivitas dan etika. AI akan memberikan manfaat yang lebih luas apabila diiringi mahasiswa yang memiliki literasi digital, lingkungan akademik yang bertanggung jawab, serta akses teknologi yang semakin merata. (**)
Penulis: Fatma Neriati Mahun
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru