TULUNGAGUNG, SJP – Sejumlah unggahan di media sosial yang menawarkan beras bantuan pangan (banpang) untuk dijual kembali menjadi perhatian Perum Bulog Cabang Tulungagung.
Dalam sejumlah grup Facebook di Tulungagung, beras yang diduga merupakan bantuan pangan pemerintah tersebut ditawarkan dengan harga sekitar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per karung.
Perum Bulog Cabang Tulungagung memastikan akan menelusuri informasi tersebut. Langkah itu dilakukan dengan berkoordinasi bersama Satreskrim Polres Tulungagung untuk mengetahui pihak yang menawarkan beras bantuan melalui media sosial.
Pemimpin Perum Bulog Cabang Tulungagung Yonas Haryadi Kurniawan mengatakan pihaknya masih akan melakukan penelusuran terhadap unggahan yang beredar.
“Kami akan coba tracing sama teman-teman Reskrim. Memang saat ini belum ada regulasi untuk pelanggaran seperti itu,” ujar Yonas, Senin (5/10/2026).
Menurut Yonas, apabila pihak yang menjual kembali beras bantuan tersebut berhasil ditemukan, petugas akan memberikan edukasi dan peringatan agar tindakan serupa tidak kembali dilakukan.
Jika penerima manfaat merasa tidak membutuhkan bantuan tersebut, yang bersangkutan juga dapat menyatakan mundur sebagai penerima manfaat.
“Dalam kemasan beras banpang sudah tertulis tidak boleh dijual kembali. Keterangan itu sudah kami tulis di kemasan sejak awal penyaluran banpang,” terangnya.
Pihak Bulog menyebut penjualan kembali beras bantuan tidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum pada kemasan. Namun, mengenai sanksi terhadap penerima yang menjual kembali bantuan tersebut, pihaknya masih menunggu ketentuan atau regulasi yang lebih jelas.
“Apakah mereka nanti layak menjadi penerima manfaat lagi atau tidak, kami masih menunggu regulasinya,” jelas Yonas.
Di sisi lain, proses penyaluran bantuan pangan berupa beras di wilayah kerja Bulog Tulungagung telah rampung. Seluruh penerima manfaat yang terdata telah mendapatkan alokasi bantuan sesuai ketentuan.
Yonas mengatakan penyaluran tersebut ditargetkan selesai pada 30 September 2026. Namun, hingga saat ini realisasi distribusi telah mencapai 100 persen.
“Target kami 30 September 2026 selesai penyaluran. Tapi saat ini distribusi banpang sudah 100 persen di wilayah kami,” paparnya.
Dalam penyaluran tersebut, setiap penerima manfaat memperoleh beras sebanyak 30 kilogram dari pemerintah.
Meski distribusi telah selesai, Bulog masih menemukan sejumlah persoalan dalam proses pemutakhiran data penerima. Salah satunya berkaitan dengan penggantian nama penerima manfaat yang dilakukan di tingkat desa.
Persoalan muncul ketika jumlah penerima yang harus diganti tidak sebanding dengan ketersediaan data pengganti yang memenuhi kriteria.
“Seumpama ada 20 orang yang akan diganti, tapi data cadangan hanya ada 15 orang. Sementara itu, penerima manfaat hanya boleh diganti dengan orang yang masuk desil 1 sampai 4,” pungkas Yonas. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru