BOJONEGORO, SJP – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) terus mendorong penguatan usaha peternakan rakyat melalui pemanfaatan teknologi pakan. Salah satunya dilakukan dengan mengenalkan nano ekstrak meniran dan teknologi fermentasi bekatul kepada peternak ayam petelur di Kabupaten Bojonegoro.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui program pengabdian kepada masyarakat di Desa Simbatan, Kecamatan Kanor. Kegiatan ini diikuti sekitar 20 peternak yang tergabung dalam Kelompok Ternak Rejo Bejoyo dan Manunggal Bersama.
Para peternak mendapatkan penjelasan sekaligus pendampingan dari tim akademisi FKH UNAIR mengenai pemanfaatan bahan pakan alternatif untuk mendukung kesehatan dan produktivitas ayam petelur.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FKH UNAIR, Dr Emy Koestanti Sabdoningrum drh MKes, mengatakan penggunaan pakan yang dilengkapi nano ekstrak meniran menunjukkan hasil yang cukup positif terhadap produktivitas ayam petelur.
Selain berorientasi pada peningkatan produksi, inovasi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan. Sebab, biaya pakan selama ini menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar dalam budidaya ayam petelur.
“Melalui inovasi ini, kami ingin membantu peternak memperoleh alternatif teknologi pakan yang dapat mendukung kesehatan dan produktivitas ayam sekaligus meningkatkan efisiensi usaha,” ujar Dr Emy.
Menurut dia, pengenalan teknologi pakan tersebut merupakan bagian dari upaya FKH UNAIR untuk membawa hasil inovasi akademik agar dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.
Nano ekstrak meniran dan fermentasi bekatul diharapkan tidak hanya memberikan manfaat terhadap kondisi kesehatan ternak, tetapi juga membantu meningkatkan produktivitas serta menekan beban biaya produksi peternak.
Dr Emy berharap pendampingan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai. Teknologi yang telah diperkenalkan diharapkan bisa diterapkan secara berkelanjutan oleh kelompok peternak.
“Harapannya, teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh kelompok peternak. Sehingga, mereka semakin mandiri dalam mengelola usaha peternakannya,” katanya.
Sementara itu, salah satu peternak, Ruly, menyambut baik kegiatan pendampingan yang dilakukan FKH UNAIR. Menurutnya, kehadiran akademisi memberikan kesempatan bagi peternak untuk menambah pengetahuan sekaligus menyampaikan persoalan yang dihadapi dalam menjalankan usaha.
“Selain itu, dapat berdiskusi langsung mengenai berbagai persoalan yang ada dalam usaha ayam petelur,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat penerapan teknologi pakan di tingkat peternak, sehingga usaha ayam petelur di Desa Simbatan dapat semakin produktif, efisien, dan berkelanjutan. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru