SUARAJATIMPOST.COM – Di panggung teater rakyat Jawa Timur, tawa bukan sekadar pelepas penat, melainkan cermin kejujuran hidup. Ludruk, seni pertunjukan tradisional khas masyarakat jelata, telah menempuh perjalanan sejarah yang sangat panjang.
Jejak pementasannya diyakini bermula sejak abad ke-12 melalui Ludruk Bandhan, sebuah pertunjukan di tanah lapang yang menyajikan aksi kekuatan batin dan daya magis. Seiring waktu, seni ini bertransformasi pada abad ke-17 lewat peran Pak Santik, seorang petani asal Jombang. Melalui kreasi Lerok Pak Santik, seni ini mulai memadukan tarian ngremo, kidungan lugas, serta olah vokal imitasi instrumen yang diiringi hentakan kaki gedrak-gedruk, yang diyakini menjadi cikal bakal istilah ludruk.
Berbeda dari kesenian keraton atau ketoprak Jawa Tengah yang terikat struktur kaku, ludruk tumbuh murni dari ekspresi akar rumput. Tidak ada pakem yang membatasi jumlah pemain maupun babak. Para pemain dituntut piawai berimprovisasi di atas panggung, mengembangkan lakon-lakon yang diangkat langsung dari persoalan sehari-hari. Kombinasi unsur tari remo, dagelan, dialog interaktif, dan lakon cerita disajikan menggunakan bahasa Jawa dialek lokal yang komunikatif dan terjangkau oleh seluruh kalangan.
Perkembangan ludruk memasuki babak baru pada dekade 1920-an melalui sentuhan dingin Cak Gondo Durasim. Tokoh legendaris asal Surabaya ini mengubah arah humor ludruk dari komedi fisik (slapstick) menjadi seni komedi yang cerdas, halus, dan sarat sindiran sosial-politik. Lebih dari sekadar sarana hiburan, ludruk pun menjelma menjadi panggung perlawanan terhadap penjajah.
Kidungan Cak Durasim yang sangat fenomenal pada masa pendudukan Jepang—“Pegupon omahe doro, melok Nipon tambah soro”—menjadi bukti nyata bagaimana seni rakyat mampu membakar semangat nasionalisme, meski harus dibayar mahal dengan jiwa sang maestro.
Semangat perlawanan dan kelincahan humor ludruk terus berlanjut ke era Ludruk Marhaen hingga era kejayaan kelompok Kartolo Cs pada dekade 1980-an yang sukses menyihir pemirsa melalui media kaset rekaman. Kini, kendati menghadapi gempuran modernisasi, ludruk tetap bertahan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Melalui pementasan komunitas anak muda, panggung Taman Budaya, dan dokumentasi digital, ludruk membuktikan bahwa tawa rakyat, kritik sosial, dan kehangatan tradisi Jawa Timur tidak akan pernah padam ditelan zaman. (**)
Sumber : indonesiakaya.com
Editor: Danu
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru