MALANG, SJP- Varietas Padi Sukma hasil temuan petani di Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, mulai memasuki tahap pengembangan setelah memperoleh Surat Keputusan (SK) Pelepasan Varietas dari Kementerian Pertanian RI.
Potensi produksi yang mencapai 14 ton per hektare membuat varietas tersebut menjadi salah satu inovasi lokal yang tengah disiapkan untuk dikembangkan.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang memproyeksikan Padi Sukma dapat meningkatkan produktivitas hingga 30 persen jika mampu menghasilkan rata-rata 10 ton per hektare.
Kepala DTPHP Kabupaten Malang Avicenna Medisica Saniputra menjelaskan, SK Pelepasan Varietas telah diterbitkan, tahapan berikutnya yakni menyiapkan benih sumber. Benih tersebut nantinya diperbanyak sebelum dapat disebarluaskan kepada petani.
“Alhamdulillah, Padi Sukma sudah keluar SK Pelepasan Varietas dari Kementerian Pertanian dan saat ini kami sedang menyiapkan benih sumber. Benih sumber ini nantinya akan kita gandakan dan siapkan untuk disebarkan,” ujarnya, Rabu (16/9/2026) usai agenda peresmian Kampus Unitri III di Wagir Malang.
SK Pelepasan Varietas tersebut diterbitkan Kementerian Pertanian pada awal Agustus 2026. Pemkab Malang selanjutnya menargetkan proses pengembangan benih berjalan bertahap hingga varietas tersebut dapat diperkenalkan lebih luas kepada petani.
Avicenna menyebut, Padi Sukma ditargetkan dapat diluncurkan pada akhir musim tanam 2027. Jika sesuai rencana, pengenalan lebih luas tersebut diperkirakan berlangsung sekitar Oktober 2027.
“Insya Allah akhir musim tanam tahun 2027 sudah bisa kita launching. Untuk musim tanam itu sekitar Oktober 2027 mendatang,” tuturnya.
Potensi Padi Sukma terlihat dari hasil pengujian yang pernah dilakukan. Produktivitas tertingginya disebut mencapai 14 ton gabah per hektare.
Capaian tersebut menjadi perhatian karena produktivitas rata-rata padi di Kabupaten Malang berada di kisaran 7 ton per hektare. Sementara produktivitas padi secara nasional dan Jawa Timur disebut sekitar 5,2 ton per hektare.
“Padi ini ditemukan di Kabupaten Malang dan produksinya luar biasa. Tertinggi sudah mencapai 14 ton. Rata-rata Kabupaten Malang selama ini sekitar 7 ton, sedangkan nasional dan Jawa Timur 5,2 ton,” beber Avicenna.
Meski demikian, capaian dalam pengujian belum menjadi jaminan bahwa produktivitas yang sama akan selalu diperoleh saat varietas ditanam petani dalam kondisi lahan yang beragam. Karena itu, pengujian dan penanaman berulang tetap diperlukan untuk melihat kestabilan karakter serta hasil produksinya.
Pemkab Malang berharap Padi Sukma nantinya mampu berada pada produktivitas rata-rata 10 ton per hektare. Angka tersebut dinilai sudah cukup memberikan dampak terhadap produksi padi daerah apabila dibandingkan dengan rata-rata produktivitas yang ada saat ini.
“Harapan saya, nanti kalau varietas ini bisa menghasilkan 10 ton saja, dibandingkan dengan 7 ton yang sekarang, peningkatan produksi kita bisa mencapai 30 persen. Itu luar biasa,” kata Avicenna.
Dalam proses pengembangannya, DTPHP Kabupaten Malang melibatkan kelompok tani di Desa Kasembon sebagai lokasi asal varietas tersebut. Pengembangan benih sumber juga mendapat dukungan pemulia tanaman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Keterlibatan pemulia BRIN membantu tahapan pengembangan varietas, terutama dalam memastikan proses penyiapan benih dan karakter tanaman tetap sesuai dengan varietas yang telah dilepas. Perguruan tinggi juga masih terbuka untuk dilibatkan dalam tahapan pengembangan berikutnya.
Padi Sukma sendiri memiliki umur tanam sekitar 115 hari. Selain mengejar produktivitas, kestabilan kualitas varietas setelah ditanam berulang kali menjadi salah satu hal yang masih diperhatikan.
“Ini masih kita teliti karena belum sampai ke tahap itu. Namun, menurut pengalaman teman-teman, varietas ini masih cukup stabil dan bagus. Penurunannya tidak terlalu banyak,” jelas Avicenna.
Tahapan pengembangan tersebut menjadi bagian penting sebelum Padi Sukma benar-benar diperbanyak dan digunakan secara luas. Pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan benih sekaligus menjaga agar potensi produktivitas yang muncul dalam pengujian dapat dipertahankan ketika varietas masuk ke lahan petani.
Jika target produktivitas rata-rata 10 ton per hektare dapat tercapai secara konsisten, Padi Sukma berpeluang menjadi tambahan varietas lokal yang dapat mendukung peningkatan produksi padi d Kabupaten Malang. (*)
Editor: Syaiful Aries
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru