BONDOWOSO, SJP — Menghadapi bulan Ramadan, Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan akan disalurkan dalam bentuk keringan. Sehingga permintaan pasokan susu UHT untuk memenuhi permintaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kian meningkat.
Melihat peluang itu, salah seorang supplier susu UHT di Bondowoso berniat untuk mengatasi kelangkaan pasokan susu untuk SPPG di Kabupaten Bondowoso, dengan memesan susu UHT lewat marketplace media sosial Facebook.
Bukannya untung, Murofik, warga Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso, niatnya justru berujung petaka. Murofik diduga menjadi korban penipuan bermodus jual beli online dengan kerugian mencapai Rp75 juta.
Peristiwa tersebut bermula ketika Murofik berupaya mencari pasokan susu UHT merek Ultra dan Indomilk ukuran 125 ml dan 115 ml, lewat marketplace. Hal itu dilakukan karena susu yang biasa ia beli dari gudang distributor di Jember, sering kosong.
Melalui platform tersebut, Murofik menemukan sebuah akun yang menawarkan susu dengan harga berkisar antara Rp103 ribu hingga Rp108 ribu per karton. Harga itu dinilainya masih sesuai dengan harga pasar sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
“Makanya kami percaya, karena harganya standar, tidak lebih murah dari pasaran,” ujar Murofik, saat dikonfirmasi di lokasi transaksi di Dusun Congkrong Desa Taman, pada Rabu (14/1/2026).
Pria berkacamata ini menerangkan kronologinya, di mana komunikasi berlanjut melalui aplikasi WhatsApp. Murofik percaya, karena penjual mengaku mampu menyediakan hingga 1.000 karton susu dan menjanjikan pengiriman dalam waktu singkat.
“Sebagai syarat administrasi, saya diminta mengirimkan alamat pengiriman serta foto KTP,” imbuhnya.
Pada sore hari, Selasa (13/1/2026) penjual menginformasikan bahwa barang telah dikirim. Bahkan untuk membuat Murofik percaya, si penjual juga secara berkala memberikan pembaruan posisi kendaraan pengangkut, mulai dari wilayah Semarang, Sidoarjo, Probolinggo, hingga memastikan truk akan tiba di Bondowoso sekira pukul 11.00 WIB.
Setibanya di lokasi, sopir menyerahkan nota transaksi dan mengaku bernama Abdul, sesuai dengan nama yang tercantum dalam kwitansi. Hal tersebut semakin meyakinkan korban.
“Saya sempat memastikan, saya tanya ini Pak Abdul, dan dia menjawab iya,” kata Murofik.
Saat korban hendak menurunkan barang, sopir meminta agar pembayaran diselesaikan terlebih dahulu. Pada saat bersamaan, sopir terlihat mondar-mandir sambil berkomunikasi melalui telepon. Dari sambungan telepon tersebut, penjual kembali mendesak agar pembayaran segera dilakukan.
“Saya sempat tanya lagi, ini benar susunya ya. Sopirnya juga menjawab iya,” ungkapnya.
Merasa tidak ada kejanggalan, Murofik akhirnya mentransfer uang sebesar Rp75 juta dari total nilai transaksi Rp99 juta ke rekening yang tertera dalam nota. Namun, setelah pintu bak truk dibuka, korban mendapati kenyataan pahit. Truk tersebut ternyata kosong tanpa muatan satu karton susu pun.
“Begitu pintu dibuka, truknya kosong. Tidak ada apa-apa,” tuturnya.
Korban kemudian mencoba menghubungi nomor penjual, namun seluruh akses komunikasi telah terputus. Nomor tersebut diketahui telah memblokir korban.
Murofik mengaku, peristiwa ini merupakan pengalaman pertamanya melakukan transaksi pembelian susu melalui perantara online. Selama ini, ia selalu bertransaksi langsung dengan distributor resmi.
Ia juga menyampaikan bahwa dana yang ditransfer bukan berasal dari uang pribadi, melainkan hasil pinjaman yang terpaksa ia cari untuk menalangi pembelian tersebut. Susu itu sejatinya akan didistribusikan ke dapur-dapur SPPG di Bondowoso yang selama ini mengalami kekurangan pasokan.
“Kami ini niatnya ingin menyetok susu supaya dapur-dapur SPPG tidak keteteran lagi,” pungkasnya.
Saat ini truk tanpa muatan diamankan di Mapolsek Grujugan. Namun Kapolsek enggan memberikan komentar, karena masih dalam proses pembuatan laporan dugaan penipuan. (*)
Editor: Rizqi Ardian
. Sumber : Suara Jatim Post & Berita Terbaru